Khazanah

Meneguhkan Spirit Perdamaian Melalui Salat

  • Ahmad Bahauddin AM
  • Selasa, 04 April 2023
  • menit membaca
  • 122x baca
Meneguhkan Spirit Perdamaian Melalui Salat

Ibadah salat merupakan satu-satuya ibadah yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. dengan cara yang berbeda dari syariat lainnya, yakni langsung berjumpa dengan Sang Khāliq tanpa suatu perantara. Ini menjadi penguat bahwa salat merupakan ibadah utama dan mempunyai kedudukan sangat penting dan mendasar dalam Islam, tentu tidak bisa disejajarkan dengan ibadah-ibadah lainnya. Sebagai bukti, kata salat banyak sekali kita temukan di dalam Al-Qur’an, diantaranya dapat ditemukan pada surat al-Baqarah ayat 45, 110, 177, surat ar- Ra’d ayat 22, surat al-'Ankabut ayat 45 dan seterusnya. Kemudian pada suatu hadis juga dijelaskan bahwa Ibadah Sholat menempati posisi kedua dari rukun Islam tentu setelah kalimat Syahadat.  

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ : بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لَا إلهَ إِلَّا اللهُ, وَ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ, وَ إِقَامِ الصَّلَاةِ, وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَالحَجِّ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخارى)

Rasullah saw. bersabda, “Islam dibangun atas lima (landasan): Persaksian dengan menafikan tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadan”. (HR. Bukhari).

Selain itu salat merupakan salah satu sarana yang paling utama dalam hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta. Salat juga merupakan sarana komunikasi bagi insan manusia dengan Allah Swt. Dengan ritual salat kita diajarkan dan dilatih bagaimana merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Terlihat pada gerakan salat yaitu memposisikan kaki dan kepala sama rendah, merasakan nikmatnya ketika sujud. Betapa Agungnya Allah Swt. sebagai Sang Pencipta serta betapa rendahnya kita sebagai hamba.

Lantas apa bukti bahwa salat menjadi kunci terciptanya perdamaian !

Bisa kita tengok dari pengertian salat menurut istilah. Dijelaskan dalam kitab Fathul Qarib karya Syaikh Muhammad bin Qasim  bahwa salat ialah rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir dan diakhiri dengan salam beserta syarat-syarat yang telah ditentukan.

Dari kedua pemaknaan tersebut dapat diinterpretasikan bahwa. Pertama, kita mengawali salat dengan melakukan Takbiratul Ihram, mengagungkan Allah Swt. seraya mengucapkan Allāhu Akbar (Allah Maha Besar). Maka kita lepaskan semua yang ada pada diri kita sifat angkuh dan menganggap diri kita merasa “paling”, paling kuat, paling benar, paling besar, paling berjasa, dst.

Prof. Quraish Shihab (Abi Quraish) menjelaskan bahwa Allahu Akbar memiliki makna Superlatif (Paling/Sangat). Allāhu Akbar bukan sekedar bermakna Tafdhīl (Lebih Besar) atau sejenisnya, akan tetapi Allah yang Maha Besar. Ketidak-adaan pembanding untuk Allah menjadikan Allah superlative atau Paling Agung-Paling Besar dan Paling Segalanya.

Tentu, Allāhu Akbar adalah sebuah bentuk ungkapan menunjukan bahwa Dia yang wujudnya sempurna dan tidak ada pembanding apalagi menandingi-Nya. Allah tidak membutuhkan siapapun dan apapun.

Kedua, kita mengakhiri ibadah shalat dengan mengucapkan Assalāmu’alaikum Warahmatullāh…... Yang memiliki makna doa dan komitmen keselamatan/perdamaian/keamanan/kesejahteraan dan Rahmat Allah serta Berkah-Nya (terlimpah) kepada kita semua.

Diharapkan ketika selesai salat dan mengucapkan as-Salām kita dapat memancarkan fibrasi kasih sayang serta kedamaian kepada segenap alam semesta beserta seluruh isinya. Ketika mengucapkan salam dan menoleh ke kanan-ke kiri, maka saat itulah manusia tampil sebagai penghubung serta pemersatu antara manusia, alam semesta dan Sang Pencipta.

Jadikan momentum ritual salat ini sebagai wujud untuk menebarkan perdamaian yakni dengan memperbaiki kualitas salat kita. Maka, berhijrahlah dari tingkatan hanya sebatas menggugurkan kewajiban salat menuju suatu kebutuhan terhadap diri kita sebagai bentuk pengabdian terhadap sang pencipta.

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar

Berita Terkait